Gagal Paham Instruksi Sederhana Bag3

Selain itu, anak yang memahami instruksi cenderung mempunyai kemampuan untuk belajar dan mempelajari hal-hal baru dengan lebih baik. PENTINGNYA KONSISTENSI Nurul menekankan, dalam mengajari anak yang penting adalah konsisten. Ini berarti, dalam keseharian Mama Papa perlu terus membiasakan diri untuk mengajari si kecil memahami instruksi.

Baca juga : Beasiswa s2 Jerman

“Jika hal ini selalu kita lakukan di setiap kesempatan, secara bertahap anak akan mampu mengikuti setiap instruksi atau permintaan orangtua atau orang lain,” tuturnya. Karenanya, jika mendeteksi ketidakmampuan si kecil dalam memahami instruksi sederhana, kita perlu segera memberikan waktu khusus untuk mengajarinya. Observasi perkembangan anak dalam waktu dua atau tiga bulan, jika tidak ada perkembangan yang cukup signifikan segera berkonsultasi kepada dokter anak dan psikolog.

“Tidak usah menunggu lama, bila orangtua menilai kemampuan anak mengalami perkembangan yang lamban atau bahkan tidak mengalami perkembangan signifikan, segeralah berkonsultasi pada ahli seperti dokter anak atau psikolog,” tegasnya. Bukan tak mungkin anak memiliki masalah dalam perkembangannya seperti, masalah kognitif, masalah konsentrasi, gangguan pendengaran, atau gangguan lainnya. Oleh karena itu, sangat perlu bagi orangtua untuk selalu memerhatikan perkembangan anak, yaitu kemampuan-kemampuan apa saja yang sudah harus dikuasai anak pada setiap tahapan usia. Berdasarkan hal tersebut kita dapat memutuskan apakah sudah saatnya meminta pendapat dari ahli.

KELAKUANNYA MIRIP SIAPA, YA? Apakah orangtua bisa menurunkan sifat-sifat yang tidak berkaitan dengan DNA anak, misalnya gaya bicara atau selera humor? Jawabannya: ya. “Dalam banyak kasus, polah tingkah anak banyak berasal dari orangtuanya,” kata George Holden, PhD, Psikolog dari Southern Methodist University dan penulis buku Parenting: A Dynamic Perspective. Dengan kata lain, orangtua bisa mengarahkan anak menuju perilaku yang baik, tetapi untuk mengarahkan minat anak agar sama seperti orangtua, itu bisa dilakukan hingga batasan tertentu. “Orangtua bisa memperlihatkan rasa antusias pada hobinya, tapi jika anak ternyata tidak memiliki ketertarikan yang sama besar, orangtua tidak bisa memaksa,” kata Margaret Tresch Owen, Ph.D., Direktur Center for Children and Families di University of Texas.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

This entry was posted in Parenting. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *