Memahami Skrining Pendengaran Pada Bayi

Sebaiknya pemeriksaan pendengaran dilakukan pada bayi sedini mungkin. Mengapa? Data WHO tahun 2010 me- nunjukkan, bayi yang lahir tuli jumlahnya mencapai 0,1–0,2% dari kelahiran hidup. Fakta inilah yang membuat anjuran untuk melakukan skrining pendengaran pada bayi baru lahir makin gencar dilakukan.

Baca juga : Kerja di Jerman

Umumnya, skrining pendengaran segera dilakukansebagai salah satu prosedur pemeriksaan bayi baru lahir. Kalau hasilnya baik, berarti tidak ada masalah. Namun, bila diduga ada gangguan, sedangkan di puskesmas atau rumah sakit tempat lahir si bayi tidak memiliki fasilitas alat tes pendengaran lanjutan, maka orangtua disarankan membawa bayi ke rumah sakit yang lebih besar. PROSEDUR SKRINING Sebagai gambarannya begini, Ma. Setelah bayi menjalani pemeriksaan fisik menyeluruh dalam 24 jam pertama kelahirannya, ada tes pendengaran khusus yang disebut OAE atau Oto Acoustic Emission (dengan catatan di rumah sakit tempat lahirnya tersedia).

Dengan teknologi ini, dapat dideteksi ketulian pada bayi sejak berusia 2 hari. Alat OAE akan ditempelkan pada telinga kiri dan kanan bayi. Hasilnya bisa pass atau refer. Pass ar tinya kondisi pendengaran bayi baik, sementara refer lebih ke arah ketidakpastian sehingga diperlukan pemeriksaan ulang pada saat bayi kontrol pertama setelah pulang. Selanjutnya, bila diperlukan, akan ada tes pemeriksaan berikut, yaitu tes BERA atau Brain Evoked Response Auditory. Jadi, tes BERA dilakukan bila dari hasil tes OAE dicurigai ada kelainan pada pendengaran bayi.

MMENGENAL TES BERA Tes BERA adalah pemeriksaan untuk menilai fungsi pendengaran dan fungsi saraf VIII atau nervus auditorius. Dengan pemeriksaan BERA dapat dideteksi saraf pendengaran mana yang mendapat gangguan. Sebaiknya tes BERA dilakukan saat bayi di atas 4 bulan, namun kurang dari 6 bulan. Mengapa? Sebab, pada bayi-bayi kecil (di bawah 3 bulan) akan lebih sulit mendeteksi gangguan pendengaran, terkaitkemampuan respons auditorik mereka yang masih terbatas. Setelah 4 bulan, bayi sudah memiliki respons memutar kepala ke arah bunyi yang terletak di bidang horizontal, walaupun belum konsisten. Apabila hasil tes pendengaran tidak memuaskan, maka perlu dilakukan pemberian alat bantu dengar sejak dini (usia 6 bulan) untuk membantu anak dalam menirukan suara dan belajar berbicara.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

This entry was posted in Parenting. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *