TERSUNGKUR DI UJUNG TENDER

MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said langsung menuju ruang kerja presiden di Istana Negara pada Jumat siang dua pekan lalu. Datang sendirian, ia menghadap kepala negara untuk melaporkan perkembangan megaproyek listrik 35 ribu megawatt. Dalam pertemuan itu, Sudirman menyampaikan laporan yang cukup rinci. Ia, misalnya, menjelaskan hambatan, beberapa kemajuan, hingga sejumlah proyek yang dibatalkan Perusahaan Listrik Negara selaku penyelenggara. Salah satu yang ia singgung: pembatalan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap Jawa 5 yang berada di Serang, Banten.

”Presiden bertanya kenapa proyek itu dibatalkan. Saat itu saya belum bisa menjawab karena belum mendapatkan penjelasannya,” kata Sudirman saat dijumpai di kantornya, Rabu pekan lalu. Presiden mengajukan pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Menurut seorang pejabat di Kementerian Energi, Presiden Joko Widodo sudah menerima surat dari salah satu peserta yang ikut serta dalam lelang proyek pembangkit berkapasitas 2 x 1.000 megawatt itu. Tertanggal 27 April 2016, surat yang salinannya diperoleh Tempo itu dikirimkan oleh Zhang Keming, Deputi CEO China Oceanwide Holdings Limited.

Zhang adalah kuasa perwakilan konsorsium tiga perusahaan, yakni Oceanwide, PT Pembang kitan Jawa-Bali (PJB), dan Shanghai Electric Power Construction. Konsorsium ini kandidat kuat pemenang proyek. Dalam surat setebal tiga halaman itu, Zhang menyampaikan keluhan dan permohonan terkait dengan pembatalan proyek. PT Ernst & Young Indonesia, lembaga yang ditunjuk oleh PLN sebagai agen pengadaan, menyampaikan pembatalan itu kepada konsorsium pada 18 April 2016. Surat yang ia tujukan kepada Presiden itu juga ditembuskan ke delapan pejabat lain. Dari Menteri Badan Usaha Milik Negara, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat, hingga Kementerian Perdagangan Cina.

Ada enam poin yang ditulis oleh Zhang pada surat tersebut. Pada poin pertama, ia mencoba meyakinkan pemerintah soal skema bisnis yang akan menguntungkan Indonesia dari sisi harga ataupun teknologi. Poin kedua berisi penegasan atas iktikad baik mereka sebagai investor. ”Kami telah memenuhi persyaratan, termasuk syarat finansial yang sulit dipenuhi investor lain,” ujar Zhang. Syarat finansial yang dimaksud adalah ketentuan bagi investor menyetorkan dana tunai sebesar 10 persen dari total nilai proyek, ditambah performance bond dengan persentase serupa. Totalnya US$ 790 juta. Zhang juga mencantumkan investasi yang telah ia curahkan untuk membebaskan 125 hektare lahan.

Jika keluar sebagai pemenang, konsorsium ini langsung bisa menggarap pekerjaan konstruksi agar pembangkit bisa beroperasi sesuai dengan target pada 2019. Sebagai investor, Zhang meminta perlindungan dan kepastian berinvestasi di Indonesia kepada Presiden Jokowi. ”Kami mohon kebijakan yang arif dari Bapak Presiden agar PLTU Jawa 5 tidak dihentikan,” kata Zhang dalam suratnya. l l l LELANG proyek Jawa 5 diumumkan pada 2014. Wakil Ketua Unit Pelaksana Program Pembangunan Ketenagalistrikan Nasional (UP3KN) Agung Wicaksono mengatakan pemerintah kemudian memasukkannya sebagai salah proyek 35 ribu megawatt pada tahun berikutnya.

Lelang proyek ini semula diikuti oleh enam konsorsium. Sejumlah perusahaan Cina dan Jepang membentuk konsorsium dengan mitra dari Indonesia. Dengan syarat harus menyetor deposit tunai, hanya dua konsorsium Cina yang dinyatakan lolos prakualifikasi. Selain konsorsium Oceanwide, satu lagi konsorsium yang lolos adalah PT Sumberenergi Sakti Prima, China National Chemical Engineering Corporation, PT D&C Engineering, dan PT Wijaya Karya Tbk.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *